SELAMAT DATANG DI BLOG IKAPPI (IKATAN ALUMNI PONDOK PESANTREN IBADURRAHMAN)DAN SELALU IKUTI PERKEMBANGAN KAMI DI BLOG INI _SEMOGA SUKSES SELALU UNTUK KITA_
Tampilkan postingan dengan label Artikel islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel islami. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juli 2013

0 Ali bin Abi Thalib dan Lelaki Tua Nasrani

Pada suatu subuh, seperti biasa Ali bin Abi Thalib bergegas dari rumahnya menuju masjid untuk mendirikan salat berjamaah bersama Rasulullah saw dan para sahabat yang lainnya. Namun belum juga jauh Ali keluar rumah, dia menjumpai kendala dalam perjalanannya sehingga membuatnya terlambat tiba di masjid. Yakni seorang kakek tua yang berjalan teramat lambat di depannya. Lambatnya jalan sang kakek membuat langkah Ali pun menjadi melambat. 

Padahal jika melihat lebar jalan yang dilalui, cukup bagi sepupu Rasulullah tersebut untuk mendahului sang kakek. Namun suami Fatimah binti Rasulullah itu tak ingin mendesak dan memaksa untuk mendahului bapak tua itu. Ali begitu menghormati sang kakek karena usianya. Meski tahu akan telat tiba di masjid dan hatinya gelisah lantaran tak bisa berjamaah bersama Rasulullah, Ali tetap bersabar berada di belakang sang kakek. 

Selangkah demi selangkah kakek tua itu berjalan, dan Ali mengikutinya di belakang. Ali menduga jika sang kakek itu adalah seorang muslim. Karena itu dia setia mengikutinya hingga menuju masjid. 

Namun begitu tiba keduanya di depan masjid, Ali terkejut. Kakek tua itu tak masuk ke dalam masjid, melainkan berbelok ke arah yang lain. Ali menyadari jika kakek tua yang diikutinya adalah seorang Nasrani. Tak berpikir panjang, Ali langsung bergegas masuk ke dalam masjid. Bersyukur, Ali masih sempat mengikuti jamaah salat subuh pada rakaat terakhir. 

Ali merasa bersyukur masih dapat berjamaah dengan Rasulullah. Namun dia tak menyadari, sesuatu yang tak biasa juga terjadi terhadap Rasulullah dan para sahabatnya dalam berjamaah salat subuh. 

Seusai salat berjamaah, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, "Apa yang terjadi, wahai Rasulullah? Tidak seperti biasanya, engkau memperlambat ruku yang terakhir?"

Rasulullah Saw menjawab, "Ketika ruku dan membaca tasbih seperti biasa, aku hendak mengangkat kepalaku untuk berdiri. Tapi Jibril tiba-tiba datang dan ia membebani punggungku hingga lama sekali. Baru setelah dia pergi dan beban itu diangkat, aku bisa mengangkat kepalaku dan berdiri."

"Mengapa bisa begitu, ya Rasulullah?" tanya sahabat yang lain.

"Aku sendiri tak mengetahuinya dan tak bisa menanyakan hal itu kepada Jibril," jawab Rasulullah Saw.

Tak lama, Jibril pun datang kepada Rasulullah saw dan menjelaskan apa yang terjadi. "Wahai Muhammad! Sesungguhnya tadi itu karena Ali tergesa-gesa mengejar salat berjamaah, tapi dia terhalang oleh seorang laki-laki Nasrani tua. Ali menghormatinya dan tak berani mendahului langkah orang tua itu. Ali memberi hak orang tua itu untuk berjalan lebih dulu. Maka, Allah memerintahkanku untuk menetapkanmu dalam keadaan ruku hingga Ali bisa menyusul salat berjamaah bersamamu."

Kemudian Rasulullah Saw mengatakan, "Itulah derajat orang yang memuliakan orang tua, meski orang tua itu seorang Nasrani."

0 10 LANGKAH MENUJU SURGA

Rasulullah merupakan teladan terbaik manusia (QS al-Ahzab:21), perkataannya merupakan wahyu dari Allah SWT (QS an-Najm: 3-4) terpelihara dari dosa dan noda (ma’shum), sudah dijamin masuk syurga oleh Allah SWT (QS Al-Fath: 2), mempunyai akhlak yang sangat mulia (QS al-Qalam: 4). Oleh sebab itulah kita patut mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh Rasulullah saw. 

Langkah pertama menuju syurga adalah senantiasa menjaga amalan wajib diikuti dengan amalan yang sunnah. Di antara amalan ibadah yang wajib adalah salat 5 waktu, dan salat wajib 5 waktu yang lebih utama adalah berjamaah di masjid. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:“Shalat seorang laki-laki dengan berjamaah dibanding salatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipatgandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudhu dengan menyempurnakan wudhunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan salat berjamaah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan salat, maka malaikat akan turun untuk mendoakannya selama dia masih berada di tempat salatnya, Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan salat.”[HR Al-Bukhari no 131 dan Muslim no 649]. 

Dari Abu Musa dia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Manusia paling besar pahalanya dalam salat adalah yang paling jauh perjalanannya, lalu yang selanjutnya. Dan seseorang yang menunggu salat hingga melakukannya bersama imam, lebih besar pahalanya daripada yang melakukannya (sendirian) kemudian tidur.” [HR Muslim no 662]. 

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian.” [HR Al-Bukhari no 131 dan Muslim no 650].

Langkah kedua adalah salat tahajud, dalam Alquran surat al-Israa ayat 79, Allah SWT berfirman: “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji"

Kemudian di dalam hadits Rasulullah saw bersabda: “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama salat sesudah salat wajib adalah salat malam.” (HR Muslim no 1163).

Langkah ketiga adalah senantiasa melakukan salat sunnah Rawatib (sunnah qobliyah dan ba’diyah). Salat rawatib 12 raka'at karena Allah SWT akan berhadiah sebuah istana di surga. Dari Ummu Habibah Radhiallaahu anha, ia berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, barangsiapa salat dalam sehari semalam dua belas rakaat akan dibangun untuknya rumah di surga, yaitu; empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah Isya dan dua rakaat sebelum salat Subuh.”(HR At-Tirmidzi).

"Shalat dua rakaat sebelum subuh, itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya." (HR Muslim). 

Langkah keempat adalah membaca Alquran, selanjutnya membaca terjemahannya. Diriwayatkan daripada Abu Umamah Radhiyallahu‘anhu, katanya, "Aku medengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bacalah Alquran karena dia akan datang pada hari Kiamat sebagai juru syafaat bagi pembacanya.” (Riwayat Muslim). 

Allah SWT berfirman dalam surat Shad ayat 29, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan agar mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29).

Langkah kelima adalah salat dhuha, minimal 2 rakaat. Dari Abu Dzar, dari Nabi saw beliau bersabda: “Pada pagi hari setiap tulang (persendian) dari kalian akan dihitung sebagai sedekah. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang dari berbuat munkar (nahi munkar) adalah sedekah. Semua itu cukup dengan dua rakaat yang dilaksanakan di waktu Dhuha.” [HR Muslim, Abu Dawud dan riwayat Bukhari dari Abu Hurairah]. 

Langkah keenam adalah menjaga wudhu, karena Allah SWT mencintai orang-orang yang suci."Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."(QS al-Baqarah: 222). 

Kemudian hadits Rasulullah SAW, “Barangsiapa tidur di malam hari dalam keadaan suci (berwudhu) maka malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya malaikat itu akan berucap ‘Ya Allah ampunilah hamba-Mu si fulan, kerana ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci,” (HR. Ibnu Hibban).

Langkah ketujuh adalah sedekah, karena dengan sedekah, Allah SWT melipatgandakan pahala kita dan memasukkan ke dalam syurga. “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS al-Hadid:18). 

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR Bukhari no 3666, Muslim no 1027). 

Langkah kedelapan adalah membaca al-ma’tusat sugra atau kubra maupun zikir-zikir lainnya yang sesuai dengan syariat. Al-Ma’tsurat merupakan doa yang berasal dari Rasulullah saw dengan sanad yang shahih. dengan doa’ al-ma’tsurat dianjurkan untuk di baca setiap pagi dan sore, insyaAllah yang membacanya akan mendapatkan berbagai macam manfaat dan mempunyai hati yang tenang. Dari Nabi saw, “Penghulu istighfar adalah Allahumma anta rabbi…’barangsiapa membacanya di siang hari yakin dengannya, kemudian mati hari itu sebelum sore hari maka dia termasuk ahli surga, dan siapa yang membaca pada malam hari yakin dengannya lalu ia mati sebelum pagi hari, maka dia termasuk ahli surga,” (HR Bukhari).

Langkah kesembilan adalah membaca asmaul husna. Firman Allah SWT, "Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia) maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu, dan pulaukanlah orang-orang yang berpaling dari kebenaran dalam masa menggunakan nama-namaNya. Mereka akan mendapat balasan mengenai apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf:180). 

Kemudian hadits Rasulullah saw “Allah mempunyai 99 nama, seratus kurang satu. Barang siapa memahaminya akan masuk surga.” (Sahih Bukhari-Muslim). 

Langkah kesepuluh adalah berdoa’ kepada Allah SWT, kita melakukan doa’ supaya Allah mengabulkan setiap keinginan kita, dan supaya semua amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT di dalam Alqruan surat al-Mu'min ayat 60 Allah SWT berfirman, ”Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."

Kemudian hadits Rasulullah saw "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (al-Baqarah: 186). 

Dalam hadits Rasulullah saw bersabda, "Tidak ada sesuatu yang paling mulia bagi Allah SWT daripada doa."(HR Ahmad, Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, Tirmidzi dan Hakim, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' no 5392). 

"Sesungguhnya barang siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya."(HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' no 2418). 

Pastikan selama melakukan rangkaian langkah ibadah-ibadah ini dilakukan degan niat yang ikhlas karena Allah SWT dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw kita melakukannya sepanjang hidup sampai berjumpa dengan Allah SWT yang terpenting dalam melakukan ibadah adalah istiqomah walaupun kecil. Dari ‘Aisyah binti Abi Bakr Ash-shiddiq radhiallahu anhuma berkata, Rasulullah saw bersabda :“Amalan yang lebih dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim). Kemudian kita melanjutkan amalan ibadah-ibadah lainnya. Semoga dengan melakukan ibadah-ibadah ini memudahkan langkah kita berjumpa dengan Allah SWT dan dimasukkan ke dalam Syurga-Nya. 

Amiiin. 
Wallahualam Bissowaab

SUMBER 

0 HIKMAH PUASA RAMADHAN


Oleh Ustaz Syed Hasan Alatas
"Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa." (S.al-Baqarah:183)
PUASA menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari,dengan disertai niat ibadah kepada Allah,karena mengharapkan redho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.
RAMAHDAH bulan yang banyak mengandung Hikmah didalamnya.Alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bukan sahaja telah diarahkan menunaikan Ibadah selama sebulan penuh dengan balasan pahala yang berlipat ganda,malah dibulan Ramadhan Allah telah menurunkan kitab suci al-Quranulkarim,yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan untuk membedakan yang benar dengan yang salah.
Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri, dsb.
Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita mengawal diri kita untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari,karena mematuhi perintah Allah.Walaupun isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya diketika masa berpuasa demi mematuhi perintah Allah s.w.t.
Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah:"Wahai orang-orang yang beriman" dan disudahi dengan:" Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa."Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan.Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama sebulan Ramadhan,melatih diri kita,menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum,mencampuri isteri,menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia,seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya.Rasullah s.a.w.bersabda:
"Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor."
(H.R.Ibnu Khuzaimah)
Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu bukan sahaja dapat membersihkan Rohani manusia juga akan membersihkan Jasmani manusia itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak berehat selama 24 jam. Alhamdulillah dengan berpuasa kita dapat merehatkan alat pencernaan kita lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan berkesan.
Perlu diingat ibadah puasa Ramadhan akan membawa faaedah bagi kesehatan
rohani dan jasmani kita bila ditunaikan mengikut panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia sahaja.
Allah berfirman yang maksudnya:
"Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (s.al-A'raf:31)
Nabi s.a.w.juga bersabda:
"Kita ini adalah kaum yang makan bila lapar, dan makan tidak kenyang."
Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi mengikut keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa muzarat kepada kesehatan kita. Boleh menyebabkan badan menjadi gemuk, dengan mengakibatkan kepada sakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh itu makanlah secara sederhana, terutama sekali ketika berbuka, mudah-mudahan Puasa dibulan Ramadhan akan membawa kesehatan bagi rohani dan jasmani kita. Insy Allah kita akan bertemu kembali.
Allah berfirman yang maksudnya: "Pada bulan Ramadhan diturunkan al-Quran
pimpinan untuk manusia dan penjelasan keterangan dari pimpinan kebenaran
itu, dan yang memisahkan antara kebenaran dan kebathilan. Barangsiapa menyaksikan (bulan) Ramadhan, hendaklah ia mengerjakan puasa.

(s.al-Baqarah:185)

SUMBER : http://www.shiar-islam.com/doc9.htm

Senin, 07 Januari 2013

0 RENUNGAN UNTUK CALON ISTRI

Saat akad nikah : "aku terima nikah nya si dia binti ayah si dia dgn Mas kawin......."
Singkat, padat, dan jelas.
Tapi tahukah makna dalam "perjanjian/ikrar" tersebut?
>> "Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia dari orang tua nya, dosa apa saja yg telah dia lakukan dari tidak menutup aurat hingga meninggalkan sholat. Semua yg berhubungan dengan si dia, aku tanggung dan bukan lagi orang tua nya yang menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku".
Jika aku GAGAL?
"Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar, dan rela masuk neraka, aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku'' (HR. Muslim).
------------
Duhai para istri,
Begitu berat nya pengorbanan suami mu terhadapmu..
Karena saat Ijab terucap,
Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjian yg dibuat oleh manusia di depan RABB nya,
Dengan disaksikan para malaikat dan manusia,
maka andai saja kau menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu,
maka itu pun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami kepadamu.

Jumat, 04 Januari 2013

0 KISAH KEBESARAN HATI SEORANG IMAM SYAFI’I DAN IMAM MALIK

KISAH KEBESARAN HATI SEORANG IMAM SYAFI’I DAN IMAM MALIK

Imam Syafi’i adalah seorang tokoh besar pendiri Mazhab Syafi’i. Beliau dikenal sangat cerdas. Ada yang mengatakan bahwa sejak usia 7 tahun sudah hafal al-Qur’an. Beliau bukan berasal dari keluarga yang berkelebihan. Namun berkat kecerdasannya itu, beliau bisa belajar pada seorang guru di Mekah tanpa mengeluar biaya sedikit pun.

Imam Malik juga tokoh besar pendiri Mazhab Maliki. Beliau berasal dari keluarga terhormat, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Kakeknya, Abu Amir termasuk keluarga pertama yang memeluk agama Islam dan juga menjadi ulama hadis terpandang di Madinah. Sejak Muda, Imam Malik menjadi orang yang cinta kepada ilmu. Beliau belajar ilmu hadis pada ayah dan paman-pamannya. Al-Muwatta’, kitab fikih yang berdasar dari kumpulan hadis-hadis pilihan, adalah kitab karangan beliau yang menjadi pegangan para santri sampai sekarang.

Imam Syafi’i dan Imam Malik bertemu di Madinah. Ceritanya, setelah berguru pada banyak ulama di Mekah, Imam Syafi’i ingin sekali melanjutkan pengembaraannya ke Madinah. Apalagi beliau mengetahui di Madinah ada Imam Malik, ulama yang termashur itu. Di hadapan Imam Malik, Imam Syafi’i mengucal al-Muwatta’, kitab yang sebelumnya sudah dihafalnya saat berada di Mekah. Imam Malik sangat kagum pada Imam Syafi’i dan begitulah hubungan antara kedua tokoh besar itu selanjutnya.
Dalam tradisi Mazhab Syafi’i, saat melaksanakan shalat Shubuh dibacakan doa Qunut. Berbeda dalam tradisi Mazhab Maliki, tak ada doa Qunut dalam salat subuh. Namun, perbedaan tradisi itu tak membuat hubungan keduanya retak. Mereka tetap menjadi guru dan murid yang saling menghormati pendapat masing-masing.

Suatu hari, Imam Syafi’i berkunjung dan menginap di rumah Imam Malik. Saling berkunjung dan menginap itu sudah menjadi kebiasaan antara keduanya. Imam Syafi’i diminta gurunya menjadi imam saat melaksanakan salat subuh. Karena ingin menghormati gurunya, Imam Syafi’i tak membaca doa Qunut dalam salat berjama’ah itu.

Begitu pun sebaliknya. Di lain hari, Imam Malik menginap di kediaman Imam Syafi’i. Saat Shubuh, mereka melaksanakan salat subuh berjama’ah, Imam Syafi’i meminta gurunya menjadi imam salat. Dengan alasan yang sama, Imam Malik pun membaca doa Qunut.

original post : Mujiburrahman

Kamis, 03 Januari 2013

0 MENGAMALKAN ILMU

Nabi SAW bersabda, (wajib bagi kamu semua untuk duduk bersama para ‘Ulama) artinya yang mengamalkan ilmunya, (dan mendengarkan kalam para ahli hikmah) artinya orang yang mengenal Tuhan.
(Karena sesungguhnya Allah Ta’ala akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah-ilmu yang bermanfaat- sebagaimana Allah menghidupkan bumu yang mati dengan air hujan). Dan dalam riwayat lain dari Thabrani dari Abu Hanifah “Duduklah kamu dengan orang dewasa, dan bertanyalah kamu kepada para ‘Ulama dan berkumpulah kamu dengan para ahli hikmah” dan dalam sebuah riwayat, “duduklah kamu degan para ulama, dan bergaulah dengan kubaro’ ”. Sesungguhnya Ulama itu ada dua macam, 
1. orang yang alim tentang hukum-hukum Allah, mereka itulah yang memiliki fatwa, dan
2. ulama yang ma’rifat akan Allah, mereka itulah para hukama’ yang dengan bergaul dengan mereka akan dapat memperbaiki akhlak, karena sesungguhnya hati mereka telah bersinar sebab ma’rifat kepada Allah demikian juga sirr / rahasia mereka telah bersinar disebabkan nur keagungan Allah. Telah bersabda Nabi SAW, akan hadir suatu masa atas umatku, mereka menjauh dari para ulama dan fuqaha, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka dengan tiga cobaan,
1. Allah akan menghilangkan berkah dari rizkinya. 
2. Allah akan mengirim kepada mereka penguasa yang zalim 
3. Mereka akan keluar meninggalkan dunia tanpa membawa iman kepada Allah Ta’ala Na’udzubiLlahi min dzaalik.

0 HAJI TANPA MAKKAH

HAJI TANPA MAKKAH
Oleh : KH Ali Mustafa Yaqub

Sekitar 1970-an, di negeri kita muncul paham yang aneh, bahkan sesat. Paham itu mengajarkan, orang yang berziarah ke tujuh makam wali, maka ia akan mendapatkan pahala yang sama seperti pahala ibadah haji dan umrah. Waktu itu banyak orang bertanya, bolehkah orang yang sudah berziarah ke tujuh makam para wali itu menyandang gelar haji?

Tentu, kita tidak ingin membahas gelar haji atau hajah bagi orang tersebut karena paham tersebut telah menyimpang dari Islam. Mudah-mudah an paham itu sekarang sudah tidak ada lagi. Mungkinkah orang yang tidak pergi ke Makkah mendapatkan pahala ibadah yang sama dengan ibadah haji dan umrah? Sangat mungkin apabila kita mengikuti Rasulullah SAW.

“Siapa yang shalat Subuh berjamaah (di masjid), kemudian ia tetap duduk di tempat shalatnya untuk berzikir kepada Allah SWT sampai terbit matahari, kemudian ia shalat sunah dua rakaat, maka ia akan mendapatkan pahala ibadah haji dan umrah dengan sempurna.” (Hadis hasan [baik], riwayat Tirmidzi dalam kitabnya Sunan al-Tirmidz).

Dari hadis ini, ada lima syarat yang mesti dikerjakan oleh setiap Muslim untuk mendapatkan pahala haji dan umrah tanpa pergi ke Makkah. Pertama, shalat Subuh berjamaah. Kedua, tetap duduk di tempat shalatnya. Ketiga, berzikir kepada Allah SWT. Keempat, hal itu dilakukan sampai terbit matahari. Kelima, shalat sunah dua rakaat.

Para ulama berbeda pendapat tentang shalat sunah dua rakaat ini, apa namanya? Ada yang mengatakan itu adalah shalat sunah Thulu’ al-Syams (terbit matahari) dan yang lain menyebutnya shalat sunah Muqadimah Dhuha (pembuka Dhuha). Bagi kita, tidak soal nama shalat itu, yang penting, kita niat shalat sunah dua rakaat. Apabila lima syarat itu dikerjakan, kita akan mendapatkan pahala ibadah haji dan umrah secara sempurna tanpa pergi ke Makkah.

Untuk menambah bekal kita di akhirat, seyogianya setiap Muslim mengerjakan tuntunan Nabi SAW ini. Mendapatkan nilai ibadah haji tanpa harus mengeluarkan biaya pergi ke Makkah, tanpa uang saku, dan juga tanpa biaya yang ekstra. Sekiranya mungkin, hal itu kita lakukan setiap hari dan apabila tidak mungkin minimal kita lakukan satu minggu satu kali.

Tuntunan Nabi SAW ini berlaku, baik bagi orang yang belum berhaji maupun orang yang sudah berhaji. Kendati begitu, bagi orang yang belum pernah beribadah haji, apabila ia memiliki kemampuan finansial untuk pergi ke Makkah, ia wajib pergi ke Makkah untuk menjalankan ibadah haji.

Bagi yang sudah beribadah haji, tapi tak memiliki kemampuan berhaji lagi, cukup mengerjakan tuntunan Nabi SAW itu. Bagi yang sudah berhaji dan memiliki kemampuan, ikutilah tuntunan sunah Nabi SAW, yaitu berhaji cukup sekali dan berinfak ribuan kali. Tak perlu berkali-kali berhaji, tetapi cukup menjalankan tuntunan Nabi SAW di atas dan uangnya bisa dimanfaatkan untuk diinfakkan di jalan Allah (fi sabilillah).

Sekiranya memang mencari pahala haji dan umrah, cukup mengerjakan tuntunan Nabi SAW tersebut di atas. Status sosial tak perlu dipikirkan sebab hal itu merusak niat haji. Wallahu a’lam.

Original post : https://www.facebook.com/groups/241792954057/permalink/10151030351284058/

Senin, 15 Oktober 2012

0 Empat Fungsi Berkurban

Pada bulan Dzulhijjah atau Hari Raya Idul Adha, ada dua kegiatan yang dilakukan oleh umat Islam. Pertama, melaksanakan ibadah haji ke Baitullah bagi golongan orang-orang yang mampu. Kedua, menyembelih hewan kurban juga bagi yang mampu, baik bagi umat Islam yang ada di Indonesia maupun yang tengah melaksanakan ibadah haji.
Ada empat fungsi berkurban. Pertama, tasyakkur. Artinya bersyukur kepada Allah atas limpahan anugerah dan karunia-Nya kepada kita, baik berupa harta, kesehatan, maupun panjang umur, sehingga kita bisa tetap melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan, “Sungguh kami telah memberikan nikmat yang banyak kepadamu, maka laksanakanlah shalat untuk Tuhan-Mu dan berkurbanlah.”
Kalau shalat sudah kita laksanakan setiap hari. Tapi berkurban, hanya setahun sekali. Meskipun begitu, masih banyak orang yang sebenarnya mampu tetapi tidak mau berkurban. Padahal pahala bagi orang yang berkurban sungguh besar sekali. Nabi Muhammad melukiskan besarnya pahala berkurban, dari tiap-tiap bulu bintang tersebut merupakan satu kebaikan.
Sebaliknya Nabi Muhammad memberikan ancaman terhadap orang-orang yang tergolong mampu berkurban tetapi tidak melaksanakan. “Barang siapa yang memiliki keleluasaan (mampu) untuk berkurban, tetapi dia tidak berkorban, maka sekali-kali jangan mendekati mushollaku.”
Berkurban juga sebagai ungkapan syukur atas nikmat sehat jamani dan rohani yang kita rasakan hingga saat ini. Apalah artinya makanan yang nyaman, gurih, dan lezat jika dalam keadaan sakit. Apalagi penyakit yang diderita itu berupa penyakit ginjal yang harus cuci darah setiap minggunya, yang biayanya tidak murah. Dengan begitu sangat murah jika ungkapan syukur sehat kita itu selama setahun hanya berkurban kambing sekitar Rp 1 juta – Rp 1,5 juta.
Kedua, tujuan berkurban untuk taqorrub, yakni mendekatkan diri kepada Allah. Memang masih ada sebagian orang yang berkurban bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah melainkan hanya sekedar pamer, mencari pujian, dan untuk menunjukkan dirinya masih banyak uang agar disebut dermawan. Niat yang salah tidak apa-apa yang penting dia mau berkurban. Cepat atau lambat kesalahan niat tersebut bisa diperbaiki.
Tujuan kita beribadah, termasuk berkurban memang tidak ada lain kecuali dalam rangka mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Jika kita berusaha mendekat kepada Allah, maka Allah pun akan mendekat kepada kita. Sebagaimana firman Allah dalam Hadis Qudsi, “Jika hamba-Ku datang dengan berjalan, maka Aku sambut kedatangannya dengan berlari. Jika hamba-Ku mendekatkan diri dalam satu hasta, maka Aku akan mendekatkan hanya dalam satu depa.”
Ketiga, dalam berkurban ada unsur ta’awun, yakni tolong menolong terhadap sesama. Dengan kata lain, berkurban ada unsur sosialnya. Tolong menolong berarti yang kuat menolong yang lemah dan yang kaya menolong yang miskin. Firman Allah, “Tolong menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan taqwa. Dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
Berkurban harus diakui di dalamya ada semangat tolong menolong. Dalam menyembelih hewan kurban yang paling kecil saja berupa kambing, tidak bisa dilakukan seoranmg diri. Apalagi kalau yang disembelih sapi, maka akan lebih memerlukan bantuan dan pertolongan pihak lain.
Tentu dalam tolong menolong ini, orang kaya tidak hanya menolong berupa daging kurban kepada fakir miskin. Perlu diperluas pengertian dalam tolong menolong, karena orang miskin tidak hanya butuh daging kurban, tetapi juga perlu beras, pakaian, pengobatan, biaya pendidikan, dan kebutuhan hidup lainnya.
Keempat, dalam berkurban tidak boleh dilupakan unsur ta’abud, yakni ibadah. Tanpa mengikutsertakan unsur yang satu ini, kurban tidak ada artinya alias tidak diterima di sisi Allah. Dengan demikian, niat dan tujuan kurban tidak boleh salah. Harus ikhlas dan niat dalam rangka melaksanakan ibadah sesuai dengan tuntunan Nabi Ibrahim.
Karena berkurban ini dalam rangka beribadah, maka pelaksanaannya harus memperhatikan dan mengikuti tuntunan sebagaimana layaknya orang melaksanakan ibadah. Dalam menyembelih, selain pisaunya harus tajam juga binatang tersebut harus tidak cacat. Di antaranya matanya tidak buta, kakinya tidak pincang, dan bentuk hewannya tidak kurus.
Sebenarnya memang kegiatan manusia yang baik dan positif, termasuk berkurban hendaknya diniati ibadah jika kita ingin memperoleh pahala. Ini sesuai dengan tujuan Allah menciptakan manusia. “Dan Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Bagi manusia yang menyadari akan keberadaaannya hidup di dunia, maka baginya tiada hari tanpa ibadah, termasuk berkurban tahun ini berupa kambing atau sapi. Yuk, kita berkurban! Yuk, kita ajak saudara-saudara kita dan teman-teman untuk berkurban.

Sabtu, 13 Oktober 2012

1 SIFAT IBADURRAHMAN (8) AKHIR YANG MULIA BAGI IBADURRAHMAN

0 SIFAT IBADURRAHMAN (7) MEMINTA ANUGRAH ISTRI DAN ANAK SEBAGAI PENYEJUK MATA




doa_meminta_anak_sholehAlhamdulillah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Satu lagi sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman yang disebut dalam surat Al Furqon, yaitu selalu memohon pada Allah karunia istri-istri dan anak-anak sebagai penyejuk mata.
Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang orang yang berkata: "Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqon: 74).
Apa sifat orang beriman yang disebutkan dalam ayat di atas?
Ibnu Katsir berkata, “Mereka (hamba yang beriman) berdo’a kepada Allah agar mendapatkan keturunan yang taat kepada Allah dan menyembah Allah semata tidak berbuat syirik kepada-Nya.”
Masya Allah ... Tafsiran yang sangat bagus. Yang orang beriman harap adalah mendapatkan keturunan yang rajin ibadah dan bertauhid kepada Allah, bukan keturunan yang berbuat syirik.
Lihat pula perkataan ulama lainnya.
Ibnu ‘Abbas berkata,
يعنون من يعمل بالطاعة، فتقرُّ به أعينهم في الدنيا والآخرة.
“Yaitu mereka (ibadurrahman) meminta agar mendapatkan keturunan yang gemar beramal ketaatan sehingga sejuklah mata mereka di dunia dan akhirat.”
‘Ikrimah berkata,
: لم يريدوا بذلك صباحة ولا جمالا ولكن أرادوا أن يكونوا مطيعين.
“Yaitu mereka (orang yang beriman) tidaklah menginginkan keturunan yang memiriki paras cantik, akan tetapi yang mereka inginkan adalah keturunan yang taat.”
Al Hasan Al Bashri ditanya mengenai ayat di atas. Beliau pun berkata,
أن يُري الله العبد المسلم من زوجته، ومن أخيه، ومن حميمه طاعة الله. لا والله ما شيء أقر لعين المسلم من أن يرى ولدا، أو ولد ولد، أو أخا، أو حميما مطيعا لله عز وجل.
“Yang ingin dilihat Allah pada hamba muslim dari istri, saudara, dan sahabat karibnya adalah mereka semua taat pada Allah.Wallahi, demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan pandangan mata seorang muslim melebihi ketaatan pada Allah yang ia lihat pada anak, cucu, saudara dan sahabat karibnya.”
Ibnu Juraij berkata mengenai ayat tersebut, “Hamba beriman meminta pada Allah agar keturunannya dapat beribadah dan memperbagus ibadahnya kepada Allah, tidak berbuat maksiat dan tindak kejahatan.”
‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam  berkata, “Orang beriman meminta kepada Allah agar istri-istrinya dan keturunannya mendapatkan hidayah Islam.”
Sedangkan ayat,
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. Ibnu ‘Abbas, Al Hasan Al Bashri, Qotada, As Sudi, Ar Robi’ bin Anas menafsirkan ayat tersebut, “Ya Allah, jadikanlah kami sebagai imam yang dapat menunjuki dalam kebaikan.”
Ada pula ulama yang mengatakan bahwa maksudnya adalah ia meminta pada Allah agar ia sendiri mendapatkan petunjuk dan sebagai pengajak kepada kebaikan. Hamba Allah yang mewariskan kebaikan pada keturunannya, inilah yang dipuji dalam hadits,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631). Orang tua yang menunjuki anak dan keturunannya dalam kebaikan, ia termasuk dalam hadits ini.
Ya Allah, jadikanlah keturunan kami adalah keturunan yang penyejuk mata kami, begitu pula dengan istri-istri kami. Jadikanlah kami pula sebagai imam yang menjadi petunjuk dalam kebaikan.
Sangat dianjurkan sekali jika seorang muslim memperbanyak do’a ini untuk memperbaiki istri, keturunan dan dirinya sendiri.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Referensi:
  1. Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, 1421 H.
THANKS TO : www.rumaysho.com

0 SIFAT IBADURRAHMAN (6) HATI MEREKA MENYAMBUT PANGGILAN ALLAH.



mentadaburi_al_quranAlhamdulillah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Ibadurrahman adalah hamba beriman yang di mana sifat mereka dipuji oleh Allah dalam akhir-akhir surat Al Furqon. Beberapa kesempatan yang lalu rumaysho.com telah mengupas beberapa sifat yang dimaksud. Sekarang masih tersisa sifat lainnya yaitu sifat hamba beriman ketika mendengar ayat dan peringatan dari Allah. Apa sifat mereka? Simak dalam bahasan sederhana berikut.
Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآَيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.” (QS. Al Furqon: 73)
Inilah sifat orang beriman sebagaimana disebutkan pula dalam ayat lainnya,
الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb-lah mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfal: 2)
Namun hal ini berbeda dengan keadaan orang kafir ketika mendengar ayat-ayat Allah, malah tidak berbekas dan tidak mengurangi kekufuran mereka. Bahkan mereka tetap berada dalam kekufuran dan pembangkangan, serta kejahilan dan kesesatan. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا مَا أُنزلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ. وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At Taubah: 124-125)
Mujahid berkata,
لم يسمعوا : ولم يبصروا، ولم يفقهوا شيئًا
“Orang beriman tidaklah seperti orang yang ketika dihadapkan ayat Allah malah tidak mendengar, tidak melihat dan tidak memahami sedikit pun.”
Al Hasan Al Bashri berkata,
كم من رجل يقرؤها ويخر عليها أصم أعمى.
Betapa banyak orang yang membaca ayat Allah, mereka malah tuli dan buta (artinya: tidak mau mengambil pelajaran, pen).”
Qotadah menjelaskan mengenai ayat di atas,
لم يصموا عن الحق ولم يعموا فيه، فهم -والله -قوم عقلوا عن الله  وانتفعوا بما  سمعوا من كتابه
Orang beriman (‘ibadurrahman) tidaklah tuli dan buta dari mendengar atau melihat kebenaran. Sungguh –demi Allah-, mereka adalah kaum yang mau berpikir dan mengambil manfaat dari kitabullah.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 332)
Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani berkata, “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Rabb mereka,yaitu dengan Al Qur’an, atau dengan nasehat atau pelajaran dari Al Qur’an, mereka tidaklah seperti orang yang tuli dan buta. Bahkan mereka tersungkur sambil mendengar dan taat serta mengambil manfaat dari Al Qur’an tersebut.” (Fathul Qodir, 5: 295, Asy Syamilah). Dalam tafsir Al Jalalain dikatakan hal yang serupa dengan Asy Syaukani (Lihat Tafsir Al Jalalain, 377).
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Jika mereka (orang beriman) diberi peringatan ayat Rabb mereka yaitu Al Qur’an yang mesti mereka dengar dan mengambil petunjuk darinya, mereka tidaklah berpaling, tidak mendengar, memalingkan pandangan atau memalingkan hati mereka sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang tidak beriman dan tidak mau membenarkan Al Qur’an. Keadaan mereka (orang beriman) sebagaimana disebutkan Allah Ta’ala,
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ
Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud  seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.” (QS. As Sajdah: 15). Ketika mendengar dan memperhatikan peringatan Allah, mereka menerima dan tunduk sehingga bertambahlah iman mereka dan bertambah sempurna rasa percaya mereka. Mereka pun akhirnya bertambah semangat, gembira dan bersenang hati.” (Taisir Al Karimir Rahman, 587)
SIFAT IBADURRAHMAN TIDAK BUTA DAN TIDAK TULI TERHADAP PERINGATAN ALLAH.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُ‌وا بِآيَاتِ رَ‌بِّهِمْ لَمْ يَخِرُّ‌وا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (QS. Al Furqon: 73)
Para pembaca sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah, inilah sifat orang beriman atau ibadurrahman yang lain yang disebutkan dalam surat Al Furqon. Mereka memiliki sifat mulia ketika mendengar ayat dan peringatan dari Allah. Simak perkataan para ulama pakar tafsir berikut ini.
Ibnul Jauzi berkata, “Mereka ketika diingatkan dengan ayat-ayat Rabb mereka, yaitu Al Qur’an, mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta. Maksudnya kata Ibnu Qutaibah, “Mereka tidak lalai seperti orang tuli yang tidak mendengar dan orang buta yang tidak melihat.” (Zaadul Masiir, 6: 110)
Ibnu Katsir berkata, “Berbeda halnya dengan orang kafir yang ketika diperingatkan dengan ayat Allah, mereka malah tetap dalam kekufurannya, seakan-akan mereka tidak mendengar dan tidak melihat.”
Mujahid berkata,
لم يسمعوا : ولم يبصروا، ولم يفقهوا شيئًا.
“Mereka tidak mendengar, tidak  juga melihat dan tidak memahami apa pun.”
Al Hasan Al Bashri berkata,
كم من رجل يقرؤها ويخر عليها أصم أعمى.
“Betapa banyak orang yang membaca dan dihadapkan padanya ayat-ayat Allah, namun ia tidak mendengar dan tidak pula melihat.”
Qotadah berkata mengenai ayat tersebut,
لم يصموا عن الحق ولم يعموا فيه، فهم -والله -قوم عقلوا عن الله  وانتفعوا بما  سمعوا من كتابه.
“Mereka tidak mendengar dan tidak pula melihat kebenaran. Mereka bisa berpikir, namun berpaling dan tidak mengambil dari kitabullah yang mereka dengar.”
Ibnu Katsir berkata, “Tidaklah pantas bagi orang beriman buta terhadap peringatan Allah. Bahkan ia seharusnya mengarahkan pandangannya terhadap perintah Allah dan ia harus yakin dengan seyakin-yakinnya.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 332)
Ayat yang kita kaji dalam surat Al Furqon saat ini semakna dengan firman Allah Ta’ala yang menjelaskan sifat orang-orang beriman.
الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfal: 2). Inilah keadaan orang beriman yang jauh berbeda dengan keadaan orang kafir. Mereka, yaitu orang kafir, ketika mendengar kalamullah tidaklah membekas dan tidak mengurangi kekufuran mereka. Bahkan mereka terus menerus berada dalam kekufuran dan pembangkangan serta terus berada dalam kebodohan dan kesesatan.
وَإِذَا مَا أُنزلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ. وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At Taubah: 124-125)
Ya Allah, jadikanlah Al Qur’an sebagai penerang hati kami.
Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang tidak buta dan tuli ketika mendengar peringatan dan ayat-ayat-Mu.
Ya Allah, golongkanlah kami menjadi ahli Qur’an dan selalu memperhatikannya.
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Referensi:
  1. Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, 1421 H.
  2. Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, terbitan Al Maktab AIslami, cetakan ketiga, 1404 H.

THANKS TO : 

1 SIFAT IBADURRAHMAN (5) TIDAK MENGHADIRI ACARA MAKSIAT



gitar_musik_maksiatAlhamdulillah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Beberapa saat yang lalu kami telah mengupas tafsir surat Al Furqon di ayat-ayat terakhir. Sekarang kita lanjutkan dengan bahasan tafsir surat tersebut di ayat 72 yang membahas tentang sifat hamba Allah yang beriman lainnya yaitu enggan menghadiri acara maksiat.
Allah Ta'ala berfirman,
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
"Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya." (QS. Al Furqon: 72)
Tidak Menghadiri Acara Maksiat
Mengenai maksud ayat,
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ 
ada 8 pendapat ulama yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi mengenai tafsiran ayat tersebut.
1. Yang dimaksud dengan az zuur adalah shonam (berhala) milik orang musyrik. Demikian pendapat Adh Dhohahk dari Ibnu 'Abbas.
2. Yang dimaksud dengan az zuur adalah ghina' (nyanyian). Yang menafsirkan seperti ini adalah Muhammad bin Al Hanafiyah, dan Makhul. Diriwayatkan dari Laits dari Mujahid, ia berkata bahwa yang dimaksud adalah mereka tidak mendengarkan nyanyian.
3. Yang dimaksud az zuur adalah syirik. Demikian dikatakan oleh Adh Dhohak dan Abu Malik. Artinya di sini mereka tidak menghadiri perbuatan kesyirikan.
4. 'Ikrimah berkata bahwa yang dimaksud az zuur adalah permainan di masa jahiliyah.
5. Qotadah dan Ibnu Juraij berkata bahwa yang dimaksud az zuur adalah kedustaan.
6. 'Ali bin Abi Tholhah berkata bahwa yang dimaksud az zuur adalah persaksian palsu. Hal ini sebagaimana penafsiran yang kami bawakan di awal tulisan.
7. Yang dimaksud az zuur adalah perayaan orang musyrik. Demikian pendapat Ar Robi' bin Anas.
8. Yang dimaksud az zuur adalah majelis khianat. Demikian kata 'Amr bin Qois. (Zaadul Masiir, 6/109)
Pendapat-pendapat di atas menyebutkan macam-macam perbuatan zur dan tidak saling bertentangan. Sehingga tafsiran-tafsiran tersebut bisa memaknakan ayat di atas. Intinya, hamba beriman tidaklah mengahadiri acara maksiat. Maka kita dapat maknakan ayat tersebut:
- sifat hamba beriman tidak menghadiri perbuatan syirik dan berhala orang musyrik.
- sifat hamba beriman tidak menghadiri perayaan non muslim, yaitu tidak menghadiri acara natal, tahun baru, valentine, dan imlek. Jika tidak menghadiri acara-acara tersebut, maka berarti tidak merayakannya.
- sifat hamba beriman juga tidak menghadiri perbuatan maksiat seperti majelis berisi dusta, pengkhianatan dan persaksian palsu.
- sifat hamba beriman juga tidak menghadiri acara musik atau konser musik, terserah acara tersebut berisi nyanyian atau lagu rock, dangdut, pop dan termasuk pula yang berbau religi yang diiringi alat musik (biasa disebut nasyid).

Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As Sa'di rahimahullah berkata, "Hamba Allah yang beriman tidaklah menghadiri az zuur, yang dimaksud adalah perkataan dan perbuatan yang haram. Mereka benar-benar menjauhi majelis yang terdapat perkataan dan perbuatan yang haram, seperti melecehkan ayat Allah, debat kusir, berdebat yang batil, ghibah (menggunjing orang), namimah (mengadu domba), mencela, menuduh dusta, mempermainkan ayat Allah, mendengarkan nyanyian haram, meminum khomr, bertelekan di permadani sutra, di tempat yang terdapat gambar makhluk bernyawa dan selainnya. Jika mereka tidak menghadiri perbuatan-perbuatan haram tadi, tentu saja mereka tidak mengatakan atau melakukannya." (Taisir Al Karimir Rahman, 587)
Bertemu dengan yang Berbuat Laghwu
Ayat selanjutnya menyebutkan,
وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
yang dimaksud dengan laghwu ada lima pendapat:
1. Perbuatan maksiat, demikian kata Al Hasan.
2. Perbuatan menyakiti orang musyrik, demikian kata Mujahid.
3. Perbuatan batil (tidak ada faedah), demikian kata Qotadah.
4. Syirik,  demikian kata Adh Dhohak.
5. Jika mengingat nikah dan perbuatan menggembirakan, demikian kata Mujahid dan Muhammad bin 'Ali.
Ketika mereka melewati orang yang berbuat maksiat, berbuat syirik atau yang perbuatan yang tidak berfaedah, maka balasan mereka,
مَرُّوا كِرَاماً 
yang dimaksud dengan ayat ini ada 3 pendapat:
1. Berjalan dengan penuh lemah lembut, demikian kata Ibnu As Saib.
2. Mereka berpaling, demikian kata Maqotil.
3. Jika mereka orang yang melakukan hal yang tidak berfaedah, mereka melampauinya. Demikian kata Al Faro'.
Ringkasnya, maksud ayat di atas bahwasanya hamba beriman tidaklah bermaksud menghadiri dan tidak pula mendengar perbuatan yang haram. Namun jika mereka tidak sengaja menemukan hal-hal maksiat tersebut, mereka memuliakan diri mereka dengan menjauh darinya. Demikian keterangan Syaikh As Sa'di (Taisir Al Karimir Rahman, 587). Dari keterangan beliau ini, hamba beriman bukanlah orang yang berniatan menghadiri perbuatan maksiat, termasuk perayaan non muslim atau majelis sia-sia yang terdapat nyanyian. Namun jika mereka tidak sengaja menghadirinya, mereka benar-benar menjauhinya. Semoga Allah memudahkan kita menjadi hamba yang benar-benar memiliki sifat demikian.

Walhamdulillah. Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi:
Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, terbitan Al Maktab AIslami, cetakan ketiga, 1404 H.
Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As Sa'di, terbitan Muassasah Ar Risalah , cetakan pertama, tahun 1423 H.
www.rumaysho.com
 

ikappi Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates